Mengenai Saya

Foto Saya
Kadang Rame, Pendiam di foto, Humoris, Rapi, Bersih, Hemat, ....
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

KONTROVERSI PERNIKAHAN DIBAWAH UMUR DI INDONESIA Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Mk. Bahasa Indonesia

KONTROVERSI PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI INDONESIA

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pada akhir-akhir ini sering terdengar kabar atau berita tentang pernikahan dibawah umur baik dari media cetak maupun media elektronik. Munculnya pernikahan di bawah umur yang sering terjadi karena adanya beberapa faktor seperti faktor tradisi, pendidikan, dan ekonomi. Salah satu contoh dari faktor tradisi adalah pernikahan dibawah umur yang dilakukan oleh penduduk Indramayu Jawa Tengah. Pernikahan yang dilakukan di Indramayu ini selain dikarenakan oleh faktor tradisi juga merupakan faktor pendidikan. Karena sebagian besar masyarakat Indramayu yang menikah di usia dini adalah mereka yang setelah lulus SD tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Selain itu mereka tidak mempunyai pilihan selain menikah. Faktor ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang mendasari para orang tua untuk menikahkan anaknya di usia muda. Karena sebagian besar para orang tua memiliki anggapan bahwa setelah mereka menikahkan anak perempuannya, maka orang tua sudah tidak berkewajiban lagi untuk membiayai kebutuhan anaknya. Namun para orang tua ini masih belum paham tentang akibat buruk yang akan timbul pada anak yang menikah di usia dini baik dari segi kesehatan maupun dari segi psikologis pada seorang anak. Karena di usia dini anak-anak sudah dipaksakan untuk memikirkan kondisi rumah tangga mereka yang mereka bina di usia dini sehingga mereka mengalami tekanan pada jiwa mereka dan ini mengganggu psikologis seorang anak.
Pernikahan dibawah umur ini terdengar semakin kontroversial di Indonesia dengan adanya pemberitaan yang ada di media massa dan media elektronik. Pemberitaan tersebut adalah tentang pernikahan yang dilakukan oleh seorang pengusaha kaya yang memiliki PT Sinar Ledoh Terang (Silenter) yang berasal dari Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Pengusaha tersebut bernama Pujiono Cahyo Widianto alias Syeh Puji (umur 43 tahun) yang menikah dengan seorang gadis belia berasal dari Semarang juga yang bernama Lutfiana Ulfa (umur 12 tahun). Pernikahan tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2008. Selain itu pernikahan ini dilakuka secara siri menurut syariat agama Islam. Pernikahan di bawah umur ini banyak mendapat kritikan dari berbagi pihak seperti Komnas HAM Semarang, komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pernikahan dibawah umur tersebut dikritik karena tidak sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku di Indonesia.
Makalah yang berjudul “Kontroversi Pernikahan di Bawah Umur di Indonesia” ini bertujuan untuk memberika suatu wawasan kepada masyarakat secara umum tentang permasalahan pernikahan di bawah umur di Indonesia. Selain itu, agar masyarakat bisa mempertimbangkan tentang pernikaha di bawah umur yang bisa berakibat buruk terhadap psikologis seorang anak. Karena ketidaksiapan seorang anak dalam membina rumah tangga sejak umur dini yang bisa merenggut kebebasan mereka dan ini bisa mengakibatkan tekanan jiwa terhadap seorang anak tersebut. Karena itu masyarakat harus mengetahui hukum yang berlaku di Indonesia tentang pernikahan, agar anak-anak tidak kehilangan masa remajanya. Makalah ini bisa menjadi suatu pedoman bagi masyarakat yang ingin melaksanakan suatu pernikahan agar mereka tidak terjebak dalam pernikahan di bawah umur yang bisa melanggar ketentuan-ketentuan hukum pernikahan yang ada di Indonesia. Selain itu makalah ini juga bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat dalam menyikapi dan menghadapi masalah pernikahan di bawah umur yang semakin kontroversial yang terjadi di Indonesia, sehingga bisa dijadikan pedoman. Karena dengan adanya penjelasan-penjelasan dan sumber-sumber hokum tentang pernikahan di Indonesia yang baik untuk dijalankan, maka masyarakat bisa mengetahui dengan jelas tentang adanya permasalahan pernikahan di bawah umur. Selain itu menjelaskan sah atau tidaknya sutu pernikahan, agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang masalah pernikahan yang ada di Indonesia.
Makalah ini penting dibaca dan dipelajari oleh masyarakat umum karena menjelaskan tentang aturan-aturan pernikahan di bawah umur. Selain itu juga menjelaskan sah atau tidaknya pernikahan dibawah umur itu dilaksanakan. Baik secara hukum positif yang berlaku di Indonesia maupun hukum Islam yang ada di Indonesia. Didalam makalah ini juga mengandung berbagai unsur yaitu unsur pendidikan, unsur sosial, unsur hukum, unsur ekonomi dan unsur agama sehingga perlu adanya pemahaman dari masyarakat dalam membahas atau menyikapi pernikahan di bawah umur yang ada di Indonesia sekarang ini.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada pemikiran di atas, maka yang menjadi rumusan permasalahan dalam penulisan ini adalah:
a. Mengapa akhir-akhir ini di Indonesia banyak terjadi pernikahan dibawah umur?
b. Bagaimana pernikahan dibawah umur menurut hukum Positif Indonesia dan menurut hukum Islam?

3. Tujuan
  Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah:
a. Untuk menjelaskan tentang pernikahan dibawah umur yang terjadi di Indonesia
b. Untuk menjelaskan tentang pro dan kontra pernikahan dibawah umur yang terjadi di Indonesia menurut hokum Positif Indonesia dan menurut hukum Islam














B. BAHASAN 

1. Pernikahan dibawah umur
 Dalam masyarakat sering dijumpai bermacam-macam permasalahan yang dialami manusia. Beberapa permasalahan yang dialami manusia karena adanya suatu tantangan atau beban yang memaksa seseorang melakukan suatu tindakan yang belum waktunya, salah satunya yaitu pernikahan dini. Bila dilihat secara psikologis seseorang dikatakan telah mampu berkeluarga apabila telah mencapai umur 19 atau 21 tahun. Pernikahan tanpa didasari kematangan emosional akan berdampak pada kehidupan keluarganya, salah satunya akan berpengaruh terhadap bagaimana pasangan muda tersebut dalam mendidik anak. Karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan paling utama yang nantinya akan membekas dalam perilaku dan perkembangan anak.
Pernikahan di bawah umur adalah pernikahan yang dilakukan oleh seseorang laki-laki dan seorang wanita, yang umur keduanya masih dibawah batas minimum yang diatur oleh Undang-undang. Dan kedua calon mempelai tersebut belum siap secara lahir maupun batin, serta kedua calon mempelai tersebut belum mempunyai mental yang matang dan juga ada kemungkinan belum siap dalam hal materi.
Menurut para ahli bahwa batas usia dewasa baligh laki-laki 25 tahun dan bagi perempuan 20 tahun. Karena kedewasaan seseorang tersebut ditentukan secara pasti baik oleh hukum positif maupun hukum Islam, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa batasan usia dikatakan di bawah umur ketika seseorang kurang dari 25 tahun bagi laki laki dan kurang dari 20 tahun bagi perempuan. Sedangkan kata di bawah umur mempunyai arti bahwa belum cukup umur untuk menikah.
Sedangkan pengertian pernikahan baligh nikah dalam hukum Islam seperti yang diterapkan oleh ulama fiqh adalah tercapainya usia yang menjadikan seseorang siap secara biologis untuk melaksanakan perkawinan, bagi laki-laki yang sudah bermimpi keluar mani dan perempuan yang sudah haid. Hal demikian dipandang telah siap nikah secara biologis. Akan tetapi dalam perkembangan yang terjadi kemampuan secara biologis tidaklah cukup untuk melaksanakan perkawinan tanpa mempunyai kemampuan secara ekonomis dan psikis.
Secara ekonomis berarti sudah mampu mencari atau memberi nafkah dan sudah mampu membayar mahar, sedangkan secara psikis adalah kedua belah pihak sudah masak jiwa raganya. Perkawinan dapat dikatakan ideal jika sudah mempunyai tiga unsur di atas (kemampuan biologis, ekonomis dan psikis), karena ketiga kemampuan tersebut dimungkinkan telah ada pada seseorang ketika sudah berumur 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Pernikahan bukanlah sebagai alasan untuk memenuhi kebutuhan biologis saja yang bersifat seksual akan tetapi pernikahan merupakan suatu ibadah yang mulia yang diridhoi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

2. Faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan dibawah umur
 Seperti yang telah diuraikan di atas, maka secara eksplisit faktor-faktor yang mendorong terjadinya pernikahan di bawah umur tersebut antara lain :
a. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan salah satu faktor yang menjadikan manusia bahagia, walaupun bukan jalan satu-satunya. Tetapi ekonomi dapat menentukan kedudukan dan kebahagiaan di dunia. Jika dikaitkan dengan praktek pernikahan di bawah umur, penulis mendapati bahwa faktor ekonomi merupakan alasan pokok bagi orang tua dalam menikahkan anaknya. Tujuan dari orang tua untuk segera menikahkan anaknya agar mereka segera bebas dari tanggung jawabnya sebagai orang tua, karena pada kenyataannya mereka sudah berumah tangga perekonomiannya masih tergantung pada orang tuanya. Tetapi ada juga sebagian orang tua yang menikahkan anaknya dengan tujuan agar anaknya dapat berfikir secara dewasa. Ada juga yang beranggapan bahwa dengan cepatnya menikahkan anaknya, juga dapat menambah keluarga dan bertambahnya keluarga maka rizki juga bertambah.

b. Pengaruh Rendahnya Pendidikan
Salah satu faktor terjadinya pernikahan dibawah umur adalah rendahnya tingkat pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu pisau bedah yang cukup ampuh dan kuat dalam mengubah suatu sistem adat dan kebudayaan yang sudah mengakar di masyarakat. Adanya pernikahan dini ini menyebabkan sistem pendidikan anak dalam keluarga kurang berhasil, karena faktor pendidikan yang rendah menyebabkan pola pikir yang sempit dan kurang matangnya kondisi emosional seseorang.
Dan kenyataan inilah yang banyak terjadi di daerah pedesaan yang melakukan pernikahan di bawah umur karena rendahnya tingkat pendidikan bila dilihat dari perkembangan zaman pada saat ini.
c. Faktor Lingkungan 
Faktor yang paling berpengaruh yaitu faktor lingkungan. Faktor utama adalah kekhawatiran orang tua terhadap hubungan asmara anak mereka yang terlalu dalam. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, maka mereka menikahkan anaknya itu meski di usia dini. Faktor lainnya adalah kasus hamil di luar pernikahan. Khusus untuk permohonan dispensasi kawin karena hamil sebelum nikah, majelis hakim memberikan prioritas. Alasannya ibaratkan sebuah penyakit, kasus hamil sebelum nikah sudah parah dan sulit diobati. Karena itu yang perlu dipikirkan adalah nasib si jabang bayi yang dikandung calon pengantin perempuan agar ketika lahir sudah melihat kedua orang tuanya memiliki ikatan pernikahan sah di mata undang-undang. Pergaulan bebas di kalangan remaja semakin menjadi akibat kemajuan teknologi informasi.

3. Pro dan kontra terjadinya pernikahan dibawah umur di Indonesia
 Pernikahan di bawah umur menurut hukum Positif di Indonesia dan menurut hukum Islam:
 a. Hukum Positif Indonesia
Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental. Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog, ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.

 b. Hukum Islam
Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh. Terlepas dari semua itu, masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut. 
Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya, nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan keturunan. Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan. Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Memahami masalah ini dari aspek historis, sosiologis, dan kultural yang ada. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun), Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya.  
Sebaliknya, mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari QS. al Thalaq: 4. Disamping itu, sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat. Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas, sehingga gagasan ini tidak dianggap. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan. 
Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya, ketika ada jenazah, dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”. Hadis Nabi kedua berbunyi, ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan, maka anak itu berdosa dan dosa tersebut dibebankan atas orang tuanya”. 
Pada hakekatnya, penikahan dini juga mempunyai sisi positif. Kita tahu, saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. Kebebasan yang sudah melampui batas, dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di masyarakat. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Oleh karena itu, pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Daripada terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan, jika sudah ada yang siap untuk bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara’ kenapa tidak ? 


C. PENUTUP

1. Kesimpulan
a. Adanya pernikahan dini ini menyebabkan sistem pendidikan anak dalam keluarga kurang berhasil. Timbul pengaruh bagi mereka yang menikah pada usia muda terhadap cara mendidik anak dalam keluarganya, hal ini disebabkan karena pendidikan yang rendah dan kurang siapnya pasangan muda tersebut dalam menjalani hidup berumah tangga. 
b. Menurut Undang-undang Perkawinan No. 1/1974 sebagai hukum positif yang berlaku di Indonesia, menetapkan batas umur perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan (pasal 7 ayat (1)). Namun batas usia tersebut bukan merupakan batas usia seseorang telah dewasa, yang cukup dewasa untuk bertindak, akan tetapi batas usia tersebut hanya merupakan batas usia minimal seseorang boleh melakukan pernikahan. Di dalam pasal 6 ayat (2), disebutkan bahwa seseorang sudah dikatakan dewasa kalau sudah mencapai umur 21 tahun, sehingga dalam melakukan pernikahan tidak perlu mendapatkan izin dari kedua orang tuanya.
c. Pernikahan di bawah umur merupakan suatu bentuk perkawinan yang tidak sesuai dengan yang diidealkan oleh ketentuan yang berlaku di perundang-undangan yang telah ada dan memberikan batasan usia untuk melangsungkan perkawinan. Dengan kata lain, perkawinan di usia muda merupakan bentuk penyimpangan dari perkawinan secara umum karena tidak sesuai dengan syarat-syarat perkawinan yang telah ditetapkan.
2. Saran
Sebegitu agungnya pernikahan itu sehingga bagi mereka yang melaksanakan pernikahan dianggap telah memiliki setengah dari agama, karena telah menjalankan sunnah Rasul. Oleh sebab itu pernikahan tersebut harus diawali dengan niat yang suci dari dalam hati. Pernikahan yang dilaksanakan tanpa adanya persiapan mental, spiritual dan dengan niat yang suci yang memadai akan menimbulkan banyak sekali dampak negatif dalam mempengaruhi bahtera kehidupan dalam rumah tangga tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Daly, Peunoh, 1980. Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan dalam Kalangan Ahli Sunnah dan Negara-negara Islam, cet. I, Yogyakarta: Bulan Bintang.

Desparwati, Budi Dwi. 2007. Faktor-Faktor Penyebab Pernikahan Dini dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak dalam Keluarga (online), (http://etd.library.ums.ac.id/go.php?id=jtptums-gdl-s1-2007-budidwides-5151, diakses 27 November 2008).

Jawa Pos, 27 Oktober, 2008. Syeh Puji-Ulfa, Perkawinan Pengusaha-Bocah yang sarat Kontroversi (2), hlm. 15.

Jawa Pos, 3 November, 2008. Kantong-Kantong Daerah dengan Tradisi Nikah di bawah Umur (1), hlm. 15.

Prints, J., 1982. Tentang Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rahman, Bakri A. dan Ahmadi Sukadja, 1981. Hukum Perkawinan Menurut Islam, Undang-undang Perkawinan dan Hukum Perdata/BW, Jakarta: Hidakarya Agung.

Ramulyo, Mohd. Idris, 1996. Hukum Perkawinan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Rofiq, Ahmad, 1998. Hukum Islam di Indonesia, cet. III, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Yusuf, Abdul Hadi. 2008. Pernikahan Dini dalam Perspektif Agama dan Negara (online), (http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article id=1240:pernikahan-dini-dalam-perspektif-agama-dan-negara&catid=2:islam kontemporer&Itemid=57, diakses 27 November 2008).


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

wildan's blog mengatakan...

Salam kenal...
Emang klo nikah di bawah umur knapa mbak... yg penting kan rumah tangga nya benar dan keluarganya harmonis.
Klo menurut Mbak Nur sendiri gmana??

sagita16 mengatakan...

memang bener dibolehkan,tapi kan kasihan mereka yg masih dibawah umur.belum bnyak pengalaman yg mereka dapatkan. selain itu juga mereka masih punya jalan panjang utk meningkatkan kapasitas mereka,seperti mewujudkan cita2 mreka dan juga menambah wawasan mreka lebih lanjut tentang cara berumah tangga nantinya.